Senin, 21 Maret 2016

CURUG CIPUTRI



Curug Putri Landung atau Ciputri memiliki ketinggian mencapai 20 meter dan berasal dari mata air jauh di dalam hutan Gunung Ciremai (3.078 mdpl).  Curug ini terletak dalam kawasan Bumi Perkemahan Palutungan (yang dikelola oleh pihak Perum Perhutani) dengan ketinggian 1.100 – 1.150 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan curah hujan 3.000 mm/tahun, dan sejuknya suhu udara antara 20 – 24C.
Letak Curug Putri ini menjorok ke dalam dikelilingi tebing terjal dan pepohonan rimbun.  Bahkan di sebelah kiri terdapat satu pohon beringin besar yang teduh.  Di depannya terdapat kolam air tempat menampung curahan terjunan airnya.  Kolam ini tidaklah terlalu dalam hanya sepinggang orang dewasa sehingga dapat dipakai untuk berendam dan berenang.
Nama Curug Putri sendiri berasal dari legenda tempat tersebut sebagai tempat pemandian para putri dari Kahyangan, tempat para bidadari turun ke Bumi. Apabila ada hujan gerimis dan matahari bersinar maka dari Curug Putri ini dapat melihat Pelangi/ Katumbiri dan masyarakat meyakini bahwa ketika pelangi muncul artinya para dewi yang cantik jelita dari kahyangan sedang turun ke bumi.

GUNUNG CIREMAI



Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah dinamakan "Ciremai") adalah gunung berapi kerucut yang secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.
Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet. Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.
Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan 'ci-' untuk penamaan tempat.

SITUS SAGARA HYANG



Situs purbakala Sagarahyang yang berada di Desa Sagarahyang Keamatan Nusaherang Kabupaten Kuningan adalah situs cikal bakal kerajaan Saunggalah Kuningan yang merupakan kerajaan tandingan dari Kerajaan Galuh.
Kerajaan Saungalah/Saunggaluh didirikan sang Sang Maharesi Demunawan atau Prabu Seuweukarma Rahyang tangkuku. Sang Demunawan adalah cucu dari Prabu Kreti Kandayun pendiri kerajaan Galuh. Sang Demunawan adalah tokoh agung yang sangat religius sehingga mendapat gelar MAHARESI DIRAJA.
Kearifan dan kebijakannya menjadikannya di segani oleh para raja dari galuh dan sunda juga dari kerajaan-kerajaan lainnya,
Situs Sagarah yang masih alami berada di suatu bukit yang di kelilingi pertanian sayuran penduduk. Untuk mencapai lokasi walau jauh dari pusat kota tetapi mudah di jangkau karena akses jalan telah bisa dilalui kendaraan roda empat dengan setruktur jalan yang di cor semen.
Beberapa batu lingga mini, lingga yoni dan batu yang dibentuk menyerupai binatang menjadi bukti dan pelengkap situs ini.


TAMAN PURBAKALA CIPARI



Situs Purbakala Cipari merupakan situs peninggalan era megalitikum dari masyarakat yang hidup di daratan Sunda Besar (mencakup Sumatera, Jawa, dan Kalimantan serta laut yang menghubungkan ketiganya pada masa purba, sekitar 10.000 tahun yang lalu). Pertama kali ditemukan pada tahun 1972, berupa komplek pekuburan. Lokasinya terletak di Kampung Cipari, Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Situs ini terhitung cukup lengkap menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa itu. Lokasi situs ini sekarang menjadi tujuan wisata pedagogi (Taman Purbakala Cipari) dan dilengkapi dengan museum.
Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur adalah salah satu tempat ditemukannya peninggalan kebudayaan prasejarah di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Selain Cipari, ada paling sedikit delapan tempat di sekitar kaki gunung Ciremai yang terdapat peninggalan bercorak Megalitik, Klasik, Hindu-Buddha, dan kolonial Belanda.

GEDUNG PERUNDINGAN LINGGARJATI



Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.